
Donggala, Sulawesi Tengah, Indonesia
Berprofesi sebagai wartawan sejak 1991 dan peminat masalah seni dan budaya. Tulisan pernah dipublikasikan Majalah PANJI MASYARAKAT, majalah INTISARI, Mingguan SULUH NASIONAL, PELOPOR KARYA (keduanya sudah tidak terbit)Harian Radar Sulteng, Harian Mercusuar, Harian MEDIA ALKHAIRAAT. Pernah menulis buku WAJAH KESUSASTRAAN INDONESIA DI PALU (1995) (fotokopy), MENGENAL KHAZANAH BUDAYA DAN MASYARAKAT LEMBAH PALU (1999)keduanya diterbitkan Yayasan Kebudayaan Sulawesi Tengah. Saat ini sedang menulis buku; ALIMIN LASASI DEMI PANGGUNG TEATER,HASAN M. BAHASYUAN KOMPONIS LEGENDARIS TANAH KAILI, MASYHUDDIN MASYHUDA (Penyair Dari Kuala Sampai Samudra). Selain itu juga menulis puisi.
Berprofesi sebagai wartawan sejak 1991 dan peminat masalah seni dan budaya. Tulisan pernah dipublikasikan Majalah PANJI MASYARAKAT, majalah INTISARI, Mingguan SULUH NASIONAL, PELOPOR KARYA (keduanya sudah tidak terbit)Harian Radar Sulteng, Harian Mercusuar, Harian MEDIA ALKHAIRAAT. Pernah menulis buku WAJAH KESUSASTRAAN INDONESIA DI PALU (1995) (fotokopy), MENGENAL KHAZANAH BUDAYA DAN MASYARAKAT LEMBAH PALU (1999)keduanya diterbitkan Yayasan Kebudayaan Sulawesi Tengah. Saat ini sedang menulis buku; ALIMIN LASASI DEMI PANGGUNG TEATER,HASAN M. BAHASYUAN KOMPONIS LEGENDARIS TANAH KAILI, MASYHUDDIN MASYHUDA (Penyair Dari Kuala Sampai Samudra). Selain itu juga menulis puisi.
PECAHKAN KARANG
Tubuh mereka terpanggang matahari sepanjang hari
seribu kali ayungkan tangan, hidup terhempas
pecahkan karang-karang
yang tetap utuh membatu, keras!
Mereka hidup perih
bersandarkan batu karang
nafas tinggal sekeping
perjalanan senja badan lunglai
anak-anak di gubuk berkeliaran
menanti bapaknya pecahkan karang.
Karang hidup amat keras, tak terpecahkan.
1992
KEPADA IBU KITA
Ibu, ketika aku belum sadar siapa aku
kau telah tahu arti cinta dalam pelukan dada
tak kenal siang dan kegelapan malam
Cintamu sungguh rindang ketika kemarau
keteduhan sangat terasa saat ini
sejak dulu ternyata airmatamu adalah genangan penyejuk jiwa
cinta manakala hati risauk
karena anakmu tercinta tak mau kau lihat
ada kabut merintang matanya
Ibu, air matamu ternyata adalah pemadam kebakaran
cinta kelabu dalam dadamu
air mata kau tumpahkan,
karena tak rela kabut menghalau jalan
pertanda cintamu perkasa
Kini baru aku kenal arti mata ibu
tangis berkumandang pilu bukan sesal
tapi tali cinta tersimpul erat mengikat kasih
yang tak dapat dipadamkan gelora lautan
Cintamu ibu, segala badai mampu membendungnya
segala perang tak mampu goyahkan
cintanya terhadap ibunya
Ternyata cintamu merangkul dunia
pantang menyerah sekalipun badan binasa
selama berkibar-kibar
tak peduli ketakutan yang pernah ditakuti
sepanjang hidupmu hanya lelah kau nikmati
tak sempat lihat matahari terbenam.
Semoga kita dapat bersua kembali.
23 juli 1993.
KEMERDEKAAN DIPERTANYAKAN
Kemerdekaan dipertanyakan…..
mestikah kemerdekaan diulangi
kalau ada yang tak mengerti
sebab kemerdekaan bukan akhir penderitaan
kalau rakyat kecil disepelehkan
Kemerdekaan hanyalah sebuah kekuasaan
bila jeritan tangis tak berdaya
Kemerdekaan dipertanyakan…..
kalau anak negeri dibungkam menatap
hamparan tanahnya tergusur tanpa kompromi
mestikah bisu kalau jadi saksi bulldozer
melihat harga diri bencana buatan
mengalahkan amanat kemerdekaan
Kemerdekaan dipertanyakan….
kalau wajah-wajah layu diserang tanya
apa arti kemerdekaan bagi yang tersingkirkan?
kalau ketakberdayaan selalu terhempas
pertanda kemerdekaan dalam kemerdekaan
masih diperjuangkan
Kemerdekaan dipertanyakan….
kalau penjajahan karena belum merdeka
masih dapat terpikirkan
tapi kemerdekaan di atas kemerdekaan
mestikah dikorbankan?
Kemerdekaan masih dipertanyakan….
1995
SENIMAN DI KOTAKU
Inginnya rindu berkata;
di kotaku seniman terambang
suara diambang-ambangkan
cinta berakrab kelelahan
rasa dendam diredam
rasa luka tak terobati
Inginya rindu berkata;
kalau suara digemakan
sejuta harap jadi bisu
terwujud tiada tergerai
ungkapan tersalami, bukan amin…
dijemput diam dari atas
Inginya rindu berkata;
seniman di kotaku mengembara
di panggung belantara
kejar rindunya menjauh
sebelum menghadap maut
Inginya rindu berkata;
mimpi peradaban mengusik
anak kandung kotaku
salamnya seni meragu
dari kanda kepada ananda
Meskipun mimpi bukan nyata
seniman sejati berpihak cinta
Palu, November 1995.
KETIKA SAJA INI
Ketika saja ini kutulis
Kota kita masih tengadah
Di antara apitan bukit-bukit sepi
Jalan berliku menatap masa depan
Mengantar kaki telanjang naik tangga
Persahabatan masih bersahaja
Tidak seperti saat ini
Keangkuhan merasuki
Ketika saja ini kubacakan
Kegelisahan mencabik-cabik
Kota tercinta tinggakan wajah
Sebuah wajah tak menyapa
Masa depan yang tabah
Kepergiannya tinggalkan pesan
Masa lalu yang terputus
Ketika sajak ini kuterbangkan
Suara kenangan menjerit
Terperosok peradaban liar
Dari tirai jendela godan mengintai
Pertarungan di persimpangan jalan
Bergolak kebiadaban
Kelabu berlabuh tak berlayar
Ketika saja ini kulumatkan
Melapuk dan kehilangan rindu
Bercengkram kebimbangan
Berakhirlah sajakku ini
Tinggal izinkan aku berteriak
“Kembalikan wajah kotaku”
Meskipun penyair tak punya senjata